Telaah

Mimpi Dunia ‘Nol Emisi’, di Timur Indonesia

Kondisi banjir di Desa Kawasi, Pulau Obi, yang berada dekat dengan Tambang Nikel, milik Harita Group || Foto: Istimewa

Dengan klasifikasi nikel laterit dengan kadar yang relatif tinggi dan kandungan logam nikel mencapai 2 juta ton berkadar 1,7 persen dengan status eksplorasi lanjut.

Kementrian ESDM pun mengungkapkan, 3 wilayah berdasarkan sebaran kandungan nikel terbanyak adalah Sulawesi Tenggara 32 persen, Maluku Utara 27 persen, dan Sulawesi Tengah 26 persen.

Maluku Utara, selain nikel di Haltim, dalam laporan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), terdapat Industri nikel yang berkembang di Pulau Obi, Halmahera Selatan dan Weda Halmahera Tengah.

Untuk di Obi, usaha dikontrol oleh Harita Group yang mengantongi izin pertambangan seluas 5.524 hektar.

Melalui dua anak perusahaan, PT Trimegah Bangun Persada dan PT Gane Permai Sentosa, saat ini Harita tengah menggenjot membangun pabrik komponen baterai berbasis nikel, bekerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, Zhejiang Lygend Investment Co.

Sejak tahun 2018, Harita telah mengoperasikan smelter feronikel bersama perusahaan Tiongkok lainnya, yakni Xinxing Ductile Iron Pipes Co.

Beriringan dengan itu, PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang berlokasi di Weda, Halmahera Tengah, dengan status pembangunan masih berjalan. Tapi kabarnya, sudah dalam tahap pembakaran Ore.

Dengan demikian, proyek ini direncanakan menjadi kawasan industri yang akan mengerjakan proses smelting mineral dan memproduksi komponen baterai berbasis nikel untuk kendaraan listrik secara terintegrasi.

PT IWIP menjadi 1 dari 8 kawasan industri prioritas nasional dalam RPJMN 2020 – 2024. Proyek ini memulai proses konstruksi pada tahun 2018, di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keberlangsungan lingkungan.

International Energy Agency (IEA) dalam laporan AEER mencatat, peningkatan penjualan mobil listrik secara drastis meningkatkan selama 10 tahun terakhir.

Itu artinya, jika peningkatan permintaan tinggi, maka eksploitasi nikel akan terus berlangsung, dengan kerusakan alam yang terjadi secara masif, terutama di wilayah-wilayah penyedia bahan.

Selanjutnya 1 2

Baca Juga